Selasa, 11 Februari 2014

Umat penghuni syurga dan neraka


1. Surga dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai dan neraka dikelilingi oleh syahwat. (HR. Bukhari)

2. Aku menjenguk ke surga, aku dapati kebanyakan penghuninya orang-orang fakir-miskin dan aku menjenguk ke neraka, aku dapati kebanyakan penghuninya kaum wanita. (HR. Ahmad)
3. Tiada sesuatu yang disesali oleh penghuni surga kecuali satu jam yang mereka lewatkan (di dunia) tanpa mereka gunakan untuk berzikir kepada Allah Azza wajalla. (HR. Ad-Dailami)

4.

Aku (Rasulullah Saw) bertemu (nabi) Ibrahim ketika Isra'. Dia berkata, "Ya Muhammad, sampaikan salamku kepada umatmu dan beritahukan mereka: "Sesungguhnya surga itu baik lahannya, tawar airnya, lembah-lembahnya datar dan tanamannya: 'Subhanallah walhamdulillah walailaha illallah wallahu akbar'." [hadits ini tidak dituliskan siapa yang meriwayatkannya, karena itu saya sertakan teks arabnya]
5. Tidak ada di surga sesuatu yang sama seperti yang ada di dunia kecuali nama-nama orang. (Ath-Thabrani)
6. Rasulullah Saw bersabda bahwa Allah Swt berfirman: "Aku menyiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang shaleh apa-apa yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas dalam benak manusia. Oleh karena itu bacalah kalau kamu suka ayat: 'Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.' (As-Sajdah: 17)." (Mutafaq'alaih)
7. Penghuni neraka ialah orang yang buruk perilaku dan akhlaknya dan orang yang berjalan dengan sombong, sombong terhadap orang lain, menumpuk harta kekayaan dan bersifat kikir. Adapun penghuni surga ialah rakyat yang lemah, yang selalu dikalahkan. (HR. Al Hakim dan Ahmad)
8. Azab yang paling ringan di neraka pada hari kiamat ialah dua butir bara api di kedua telapak kakinya yang dapat merebus otak. (HR. Tirmidzi)
9. Api anak Adam yang biasa dipakai untuk memasak adalah bagian dari tujuh puluh bagian api neraka. (Artinya, panas di neraka 70 kali lipat panas api di dunia). (HR. Bukhari)
10. Nabi Saw masuk surga, orang yang mati syahid, anak yang belum dewasa (baligh) dan anak perempuan kecil yang dikubur hidup-hidup masuk surga juga. (HR. Abu Dawud)

Hadits tentang Hari Kiamat dan Hisab



1. Seorang Arab Badui bertanya, "Kapankah tibanya kiamat?" Nabi Saw lalu menjawab, "Apabila amanah diabaikan maka tunggulah kiamat." Orang itu bertanya lagi, "Bagaimana hilangnya amanat itu, ya Rasulullah?" Nabi Saw menjawab, "Apabila perkara (urusan) diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat." (HR. Bukhari)


2. Mendekati kiamat akan terjadi fitnah-fitnah seolah-olah kepingan-kepingan malam yang gelap-gulita. Seorang yang pagi hari beriman maka pada sore harinya menjadi kafir, dan orang yang pada sore harinya beriman maka pada pagi harinya menjadi kafir, dia menjual agamanya dengan (imbalan) harta-benda dunia. (HR. Abu Dawud)


3. Belum terjadi kiamat sehingga orang-orang dari umatku kembali menyembah berhala-berhala selain Allah. (HR. Abu Dawud)


4. Belum terjadi kiamat sebelum seorang yang melewati kuburan berkata, "Alangkah baiknya sekiranya aku di tempat orang ini." (Maksudnya, dia ingin mati dan tidak ingin hidup karena beban berat yang selalu dihadapinya). (HR Bukhari)


5. Belum akan terjadi kiamat sehingga anak selalu menjengkelkan kedua orang tuanya, banjir di musim kemarau, kaum penjahat melimpah, orang-orang terhormat (mulia) menjadi langka, anak-anak muda berani menentang orang tua serta orang jahat dan hina berani melawan yang terhormat dan mulia. (HR. Asysyihaab).


6. Belum akan kiamat sehingga tidak ada lagi di muka bumi orang yang menyebut : "Allah, Allah." (HR. Muslim)



7. Belum akan datang kiamat sehingga seorang membunuh tetangganya, saudaranya dan ayahnya. (HR. Bukhari)


8. Belum akan datang kiamat sehingga manusia berlomba-lomba membangun dan memperindah masjid-masjid. (HR. Abu Dawud)


9. Di antara tanda-tanda kiamat ialah ilmu terangkat, kebodohan menjadi dominan, arak menjadi minuman biasa, zina dilakukan terang-terangan, wanita berlipat banyak, dan laki-laki berkurang sehingga lima puluh orang wanita berbanding seorang pria. (HR. Bukhari)


10. Belum akan datang kiamat sehingga manusia berlomba-lomba dengan bangunan-bangunan yang megah. (HR. Bukhari)


11. Belum akan tiba kiamat sehingga merajalela 'Alharju'. Para sahabat lalu bertanya, "Apa itu 'Alharju', ya Rasulullah?" Lalu beliau menjawab,"Pembunuhan... pembunuhan..." (HR. Ahmad)


12. Belum akan tiba kiamat melainkan matahari akan terbit dari Barat. Jika terbit dari Barat maka seluruh umat manusia akan beriman. Pada saat itu tidak bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia belum mengusahakan kebaikan dalam masa imannya." (HR. Bukhari dan Muslim)


13. Belum akan tiba kiamat sehingga harta banyak dan melimpah, dan orang ke luar membawa zakat hartanya tetapi tidak ada yang mau menerimanya, dan negeri-negeri Arab kembali menjadi rerumputan hijau dengan sungai-sungai mengalir. (HR. Muslim)


14. Tibanya kiamat atas makhluk-makhluk yang jahat. (HR. Muslim)


Penjelasan:
Artinya : Saat kiamat tiba, tidak ada lagi orang yang beriman. Jadi yang ditimpa azab kiamat ialah orang-orang yang jahat.


15. Saat akan tiba kiamat, jaman saling mendekat. Satu tahun seperti sebulan, sebulan seperti seminggu, seminggu seperti sehari, sehari seperti satu jam dan satu jam seperti menyalakan kayu dengan api. (HR. Tirmidzi)



Penjelasan:
Jika kiamat tiba maka rotasi bumi makin cepat. Kalau rotasi sekarang 1000 mil per jam, maka dapat diperkirakan pada hari kiamat tujuh kali atau dua belas kali bahkan lebih.


16. Demi yang jiwa Muhammad dalam genggaman-Nya. Tiada tiba kiamat melainkan telah merata dan merajalela dengan terang-terangan segala perbuatan mesum dan keji, pemutusan hubungan kekeluargaan, beretika (berakhlak) buruk dengan tetangga, orang yang jujur (amanat) dituduh berkhianat, dan orang yang khianat diberi amanat (dipercaya). (HR. Al Hakim)


17. Belum akan tiba kiamat sehingga kaum muslimin berperang dengan orang-orang Yahudi. Kaum muslimin membunuh mereka dan mereka bersembunyi di balik batu dan pohon-pohonan. Lalu batu dan pohon-pohon berkata, "Wahai kaum muslimin, wahai hamba Allah, ini orang Yahudi di belakang saya. Mari bunuhlah dia." Kecuali pohon "Gharqad" yang tumbuh di Baitil Maqdis. Itu adalah pohon orang-orang Yahudi. (HR. Ahmad)


18. Orang-orang ahli (Laailaaha illallah) tidak akan mengalami kesepian tatkala wafat, saat di kuburan dan ketika dibangkitkan. Seolah-olah aku melihat mereka ketika dibangkitkan (pada tiupan sangkakala yang kedua). Mereka sedang menyingkirkan tanah (pasir) dari kepala mereka seraya berkata, "Alhamdulillah, yang telah menghilangkan duka-cita dari kami." (HR. Abu Ya'la)


19. Kamu akan dibangkitkan pada hari kiamat tanpa sandal, telanjang bulat dan tidak dikhitan. Aisyah bertanya, "Ya Rasulullah, laki-laki dan perempuan saling melihat (aurat) yang lain?" Nabi Saw menjawab, "Pada saat itu segala urusan sangat dahsyat sehingga orang tidak memperhatikan (mengindahkan) hal itu." (Mutafaq'alaih)


20. Didatangkan kebaikan-kebaikan (pahala) dan kejahatan-kejahatan (dosa) seorang hamba, lalu saling mengikis dan bila masih tersisa kebaikan (pahala) itu Allah akan melapangkannya untuk masuk surga. (HR. Bukhari)



21. Seorang anak Adam sebelum menggerakkan kakinya pada hari kiamat akan ditanya tentang lima perkara: (1) Tentang umurnya, untuk apa dihabiskannya; (2) Tentang masa mudanya, apa yang telah dilakukannya; (3) Tentang hartanya, dari sumber mana dia peroleh dan (4) dalam hal apa dia membelanjakannya; (5) dan tentang ilmunya, mana yang dia amalkan. (HR. Ahmad)


22. Amal seseorang tidak dapat menyelamatkannya. Seorang sahabat lantas bertanya tentang sabda tersebut, "Termasuk engkau juga, ya Rasulullah?" Rasulullah lalu menjawab, "Ya, aku juga, kecuali dikarunia Allah dengan rahmat-Nya. Walaupun demikian kamu harus berbuat yang benar (baik)." (HR. Bukhari dan Muslim)


23. Yang pertama diadili antara manusia pada hari kiamat ialah kasus pembunuhan. (HR. Muslim)

Akhlaq yang di Ridhoi Allah slam Iman Ihsan


1. Pada suatu hari kami (Umar Ra dan para sahabat Ra) duduk-duduk bersama Rasulullah Saw. Lalu muncul di hadapan kami seorang yang berpakaian putih. Rambutnya hitam sekali dan tidak tampak tanda-tanda perjalanan. Tidak seorangpun dari kami yang mengenalnya. Dia langsung duduk menghadap Rasulullah Saw. Kedua kakinya menghempit kedua kaki Rasulullah, dari kedua telapak tangannya diletakkan di atas paha Rasulullah Saw, seraya berkata, "Ya Muhammad, beritahu aku tentang Islam." Lalu Rasulullah Saw menjawab, "Islam ialah bersyahadat bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan mengerjakan haji apabila mampu." Kemudian dia bertanya lagi, "Kini beritahu aku tentang iman." Rasulullah Saw menjawab, "Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan beriman kepada Qodar baik dan buruknya." Orang itu lantas berkata, "Benar. Kini beritahu aku tentang ihsan." Rasulullah berkata, "Beribadah kepada Allah seolah-olah anda melihat-Nya walaupun anda tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat anda. Dia bertanya lagi, "Beritahu aku tentang Assa'ah (azab kiamat)." Rasulullah menjawab, "Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya." Kemudian dia bertanya lagi, "Beritahu aku tentang tanda-tandanya." Rasulullah menjawab, "Seorang budak wanita melahirkan nyonya besarnya. Orang-orang tanpa sandal, setengah telanjang, melarat dan penggembala unta masing-masing berlomba membangun gedung-gedung bertingkat." Kemudian orang itu pergi menghilang dari pandangan mata. Lalu Rasulullah Saw bertanya kepada Umar, "Hai Umar, tahukah kamu siapa orang yang bertanya tadi?" Lalu aku (Umar) menjawab, "Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui." Rasulullah Saw lantas berkata, "Itulah Jibril datang untuk mengajarkan agama kepada kalian." (HR. Muslim)

2. Iman terbagi dua, separo dalam sabar dan separo dalam syukur. (HR. Al-Baihaqi)

3. Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada. (HR. Ath Thobari)

4. Sufyan bin Abdullah berkata,"Ya Rasulullah, terangkan kepadaku tentang Islam. Aku tidak akan bertanya lagi kepada orang lain." Lalu Rasulullah Saw menjawab, "Ikrarkanlah (katakan): Aku beriman kepada Allah, kemudian berlakulah jujur (istiqomah)." (HR. Muslim)

5. Peliharalah (perintah dan larangan) Allah, niscaya kamu akan selalu merasakan kehadiran-Nya. Kenalilah Allah waktu kamu senang, niscaya Allah akan mengenalimu waktu kamu dalam kesulitan. Ketahuilah, apa yang luput dari kamu adalah sesuatu yang pasti tidak mengenaimu dan apa yang akan mengenaimu pasti tidak akan meleset dari kamu. Kemenangan (keberhasilan) hanya dapat dicapai dengan kesabaran. Kelonggaran bersamaan dengan kesusahan dan datangnya kesulitan bersamaan dengan kemudahan. (HR. Tirmidzi)

6. Sesungguhnya bermula datangnya Islam dianggap asing (aneh) dan akan datang kembali asing. Namun berbahagialah orang-orang asing itu. Para sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw, "Ya Rasulullah, apa yang dimaksud orang asing (aneh) itu?" Lalu Rasulullah menjawab, "Orang yang melakukan kebaikan-kebaikan di saat orang-orang melakukan pengrusakan." (HR. Muslim)
 
7. Umat terdahulu selamat (jaya) karena teguhnya keyakinan dan zuhud. Dan umat terakhir kelak akan binasa karena kekikiran (harta dan jiwa) dan cita-cita kosong." (Ibnu Abi Ad-Dunia)
 
8. Tiga perkara berasal dari iman: (1) Tidak mengkafirkan orang yang mengucapkan "Laailaaha illallah" karena suatu dosa yang dilakukannya atau mengeluarkannya dari Islam karena sesuatu perbuatan; (2) Jihad akan terus berlangsung semenjak Allah mengutusku sampai pada saat yang terakhir dari umat ini memerangi Dajjal tidak dapat dirubah oleh kezaliman seorang zalim atau keadilan seorang yang adil; (3) Beriman kepada takdir-takdir. (HR. Abu Dawud)

9. Pokok segala urusan ialah Al Islam dan tiangnya adalah shalat, dan puncaknya (atapnya) adalah berjihad. (HR. Tirmidzi)

10. Tiada lurus iman seorang hamba sehingga lurus hatinya, dan tiada lurus hatinya sehingga lurus lidahnya. (HR. Ahmad)

KEMULYAAN DARI ALQUR'AN


http://3.bp.blogspot.com/-95xAtk0a6UI/Ub9KSXMZIjI/AAAAAAAABlE/nNrf2J0Nq5g/s320/1.jpg1. Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah (Al Qur'an) dan sunnah Rasulullah Saw. (HR. Muslim)

2. Sesungguhnya Allah, dengan kitab ini (Al Qur'an) meninggikan derajat kaum-kaum dan menjatuhkan derajat kaum yang lain. (HR. Muslim)
 
Penjelasan:
Maksudnya: Barangsiapa yang berpedoman dan mengamalkan isi Al Qur'an maka Allah akan meninggikan derajatnya, tapi barangsiapa yang tidak beriman kepada Al Qur'an maka Allah akan menghinakannya dan merendahkan derajatnya.

3. Apabila seorang ingin berdialog dengan Robbnya maka hendaklah dia membaca Al Qur'an. (Ad-Dailami dan Al-Baihaqi)

4. Orang yang pandai membaca Al Qur'an akan bersama malaikat yang mulia lagi berbakti, dan yang membaca tetapi sulit dan terbata-bata maka dia mendapat dua pahala. (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Sebaik-baik kamu ialah yang mempelajari Al Qur'an dan mengajarkannya. (HR. Bukhari)

6. Orang yang dalam benaknya tidak ada sedikitpun dari Al Qur'an ibarat rumah yang bobrok. (Mashabih Assunnah)

7. Barangsiapa mengulas Al Qur'an tanpa ilmu pengetahuan maka bersiaplah menduduki neraka. (HR. Abu Dawud)

Penjelasan:
Maksud hadits ini adalah menterjemah, menafsirkan atau menguraikan Al Qur'an hanya dengan akal pikirannya sendiri tanpa panduan dari hadits Rasulullah, panduan dari para sahabat dan ulama yang shaleh, serta tanpa akal dan naqal yang benar.

8. Barangsiapa menguraikan Al Qur'an dengan akal pikirannya sendiri dan benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan. (HR. Ahmad)

9. Barangsiapa membaca satu huruf dari Al Qur'an maka baginya satu pahala dan satu pahala diganjar sepuluh kali lipat. (HR. Tirmidzi)

Muhammad Rasulullah Saw


1. Rasulullah Saw bersabda: "Aku kesayangan Allah (dan tidak congkak). Aku membawa panji "PUJIAN" pada hari kiamat, di bawahnya Adam dan yang sesudahnya (dan tidak congkak). Aku yang pertama pemberi syafa'at dan yang diterima syafaatnya pada hari kiamat (dan tidak congkak). Aku yang pertama menggerakkan pintu surga dan Allah membukanya untukku dan aku dimasukkanNya bersama-sama orang-orang beriman yang fakir (dan tidak congkak). Dan Aku lah paling mulia dari kalangan terdahulu dan terbelakang di sisi Allah (dan tidak congkak)." (HR. Tirmidzi)



2. Ketika Aisyah Ra ditanya tentang akhlak Rasulullah Saw, maka dia menjawab, "Akhlaknya adalah Al Qur'an." (HR. Abu Dawud dan Muslim)


3. Aku penutup para nabi. Tidak ada nabi lagi sesudah aku. (HR. Ahmad dan Al Hakim)


4. Aku diberi (oleh Allah) hikmah-hikmah yang banyak dalam ucapan-ucapan yang sedikit. (Maksudnya, ucapan-ucapan beliau singkat tetapi mengandung makna yang luas dan dalam). (HR. Ahmad)


5. Kepada Rasulullah Saw disarankan agar mengutuk orang-orang musyrik. Tetapi beliau menjawab: "Aku tidak diutus untuk (melontarkan) kutukan, tetapi sesungguhnya aku diutus sebagai (pembawa) rahmat." (HR. Bukhari dan Muslim)


6. Anas Ra, pembantu rumah tangga Nabi Saw berkata, "Aku membantu rumah tangga Nabi Saw sepuluh tahun lamanya, dan belum pernah beliau mengeluh "Ah" terhadapku dan belum pernah beliau menegur, "kenapa kamu lakukan ini atau kenapa tidak kau lakukan ini." (HR. Ahmad)



7. Rasulullah Saw melakukan shalat malam sehingga kedua kakinya bengkak. Beliau juga tidak senang bila ada orang berjalan di belakangnya. (Artinya, tidak sejajar dan berjalan di belakangnya dengan maksud untuk menghormati beliau.) (HR. Bukhari dan Muslim)


8. Anas Ra berkata, "Rasulullah Saw adalah orang yang paling baik, paling dermawan (murah tangan), dan paling berani". (HR. Ahmad)


9. Tiada seorang beriman hingga aku lebih dicintai dari ayahnya, anaknya, dan seluruh manusia. (HR. Bukhari)


10. Aku Muhammad dan Ahmad (terpuji), yang dihormati, yang menghimpun manusia, nabi (penyeru) taubat, dan nabi (penyebar) rahmat. (HR. Muslim)

Seruan dan Peringatan Allah Ta'ala


1. Rasulullah Saw bersabda bahwa Allah 'Azza wajalla berfirman, "Anak Adam mendustakan Aku padahal tidak seharusnya dia berbuat demikian. Dia mencaci Aku padahal tidak seharusnya demikian. Adapun mendustakan Aku adalah dengan ucapannya bahwa "Allah tidak akan menghidupkan aku kembali sebagaimana menciptakan aku pada permulaan". Ketahuilah bahwa tiada ciptaan (makhluk) pertama lebih mudah bagiku daripada mengulangi ciptaan. Adapun caci-makinya terhadap Aku ialah dengan berkata, "Allah mempunyai anak". Padahal Aku Maha Esa yang bergantung kepada-Ku segala sesuatu. Aku tiada beranak dan tiada pula diperanakkan dan tidak ada seorangpun setara dengan Aku." (HR. Bukhari)



2. Dalam hadits Qudsi dijelaskan bahwa Allah Ta'ala berfirman: "Hai anak Adam, kamu tidak adil terhadap-Ku. Aku mengasihimu dengan kenikmatan-kenikmatan tetapi kamu membenciKu dengan berbuat maksiat-maksiat. Kebajikan kuturunkan kepadamu dan kejahatan-kejahatanmu naik kepada-Ku. Selamanya malaikat yang mulia datang melapor tentang kamu tiap siang dan malam dengan amal-amalmu yang buruk. Tetapi hai anak Adam, jika kamu mendengar perilakumu dari orang lain dan kamu tidak tahu siapa yang disifatkan pasti kamu akan cepat membencinya." (Ar-Rafii dan Ar-Rabii').


3. Anak Adam mengganggu Aku, mencaci-maki jaman (masa), dan Akulah jaman. Aku yang menggilirkan malam dan siang. (HR. Bukhari dan Muslim)


4. Allah Ta'ala berfirman (dalam hadits Qudsi) : "Kebesaran (kesombongan atau kecongkakan) pakaianKu dan keagungan adalah sarungKu. Barangsiapa merampas salah satu (dari keduanya) Aku lempar dia ke neraka (jahanam)." (HR. Abu Dawud)


5. Berbaik sangka terhadap Allah termasuk ibadah yang baik. (HR. Abu Dawud)


6. Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga. (Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu). ( HR. Bukhari)


7. Allah 'Azza wajalla berfirman (hadits Qudsi): "Hai anak Adam, Aku menyuruhmu tetapi kamu berpaling, dan Aku melarangmu tetapi kamu tidak mengindahkan, dan Aku menutup-nutupi (kesalahan-kesalahan)mu tetapi kamu tambah berani, dan Aku membiarkanmu dan kamu tidak mempedulikan Aku. Wahai orang yang esok hari bila diseru oleh manusia akan menyambutnya, dan bila diseru oleh Yang Maha Besar (Allah) dia berpaling dan mengesampingkan, ketahuilah, apabila kamu minta Aku memberimu, jika kamu berdoa kepada-Ku Aku kabulkan, dan apabila kamu sakit Aku sembuhkan, dan jika kamu berserah diri Aku memberimu rezeki, dan jika kamu mendatangiKu Aku menerimamu, dan bila kamu bertaubat Aku ampuni (dosa-dosa)mu, dan Aku Maha Penerima Taubat dan Maha Pengasih." (HR. Tirmidzi dan Al Hakim)

Kamis, 06 Februari 2014

AMALAN PEMBUKA PINTU RIZKI


Nabi Nuh as. berkata kepada kaumnya : “Maka aku katakan kepada mereka, mohon ampunlah kepada Rabb-mu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) sungai-sungai”. (QS Nuh : 10-12)

Fiman Allah : “Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”. (QS. Ath-Thalaq : 2-3)

Allah berfirman : “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya. Dialah sebaik-baiknya Pemberi rizki”. (QS. Saba : 39)

“Bukankah kalian ditolong dan diberi rizki lantaran orang-orang lemah diantara kalian?”. (HR. Bukhari)
Allah berfirman : “Barangsiapa berhijrah dijalan Allah, niscaya mereka akan mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak”. (QS. An Nisa : 100)

Rasulullah saw bersabda : “Sungguh, seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana rizki burung-burung. Mereka berangkat pagi dengan perut lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang”. (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnul Mubarak, Ibnu Hibban, Al Hakim, Al Qudhai dan Al Baghawi dari Umar bin Khaththab)

Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya Allah berfirman : “Wahai anak Adam, beribadahlah sepenuhnya kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan kekayaan dan Aku penuhi kebutuhanmu. (Dan) jika kalian tidak melakukannya, niscaya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu”. (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim)

Rasulullah saw bersabda : “Kerjakanlah haji dengan umrah atau sebaliknya. Karena sesungguhnya keduanya dapat menghilangkan kemiskinan dan dosa sebagaimana api dapat menghilangkan kotoran (karat) besi.” (HR. Nasai)
Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturrahim” (HR. Bukhari)

Anas bin Malik berkata : “Dulu ada dua orang bersaudara pada masa Rasulullah saw. Salah seorang mendatangi (menuntut ilmu) pada Rasulullah saw, sedangkan yang lainnya bekerja. Lalu saudaranya yang bekerja itu mengadu kepada Rasulullah saw (lantaran ia memberi nafkah kepada saudaranya itu), maka Beliau bersabda : “Mudah-Mudahan engkau diberi rizki dengan sebab dia”. (HR.Tirmidzi dan Al Hakim)

DALIL HUKUM PERNIKAHAN DALAM ISLAM


“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tandabagi kaum yang berpikir” (Ar-Ruum 21)

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (An Nuur 32)

“Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah” (Adz Dzariyaat 49)

“Janganlah kalian mendekati zina, karena zina itu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk” (Al-Isra 32)

“Dialah yang menciptakan kalian dari satu orang, kemudian darinya Dia menciptakan istrinya, agar menjadi cocok dan tenteram kepadanya” (Al-A’raf 189)

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)” (An-Nur 26)

“Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan” ( An Nisaa : 4)

“Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.”  (Qs. Yaa Siin (36) : 36).

“Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik.” (Qs. An Nahl (16) : 72).

“Wahai manusia, bertaqwalah kamu sekalian kepada Tuhanmu yang telah menjadikan kamu satu diri, lalu Ia jadikan daripadanya jodohnya, kemudian Dia kembangbiakkan menjadi laki-laki dan perempuan yang banyak sekali.” (Qs. An Nisaa (4) : 1).

“..Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja.” .(Qs. An Nisaa’ (4) : 3).

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukminah apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sesungguhnya dia telah berbuat kesesatan yang nyata.” (Qs. Al Ahzaab (33) : 36).

“Sesungguhnya, apabila seorang suami memandang isterinya (dengan kasih & sayang) dan isterinya juga memandang suaminya (dengan kasih & sayang), maka Allah akan memandang keduanya dengan pandangan kasih & sayang. Dan apabila seorang suami memegangi jemari isterinya (dengan kasih & sayang) maka berjatuhanlah dosa-dosa dari segala jemari keduanya” (HR. Abu Sa’id)

“Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan)” (HR. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah)

“Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku” (HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.)

“Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu : berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan menikah” (HR. Tirmidzi)

“Janganlah seorang laki-laki berdua-duan (khalwat) dengan seorang perempuan, karena pihak ketiga adalah syaithan” (Al Hadits)

“Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk kawin, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya” (HR. Bukhori-Muslim)

“Janganlah seorang laki-laki dan wanita berkhalwat, sebab syaithan menemaninya. Janganlah salah seorang di antara kita berkhalwat, kecuali wanita itu disertai mahramnya” (HR. Imam Bukhari dan Iman Muslim dari Abdullah Ibnu Abbas ra).

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah tidak melakukan khalwat dengan seorang wanita yang tidak disertai mahramnya, karena sesungguhnya yang ketiga adalah syetan” (Al Hadits)

“Dunia ini dijadikan Allah penuh perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan hidup adalah istri yang sholihah” (HR. Muslim)

“Jika datang (melamar) kepadamu orang yang engkau senangi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan putrimu). Jika kamu tidak menerima (lamaran)-nya niscaya terjadi malapetaka di bumi dan kerusakan yang luas” (H.R. At-Turmidzi)

“Barang siapa yang diberi istri yang sholihah oleh Allah, berarti telah ditolong oleh-Nya pada separuh agamanya. Oleh karena itu, hendaknya ia bertaqwa pada separuh yang lain” (Al Hadits)

“Jadilah istri yang terbaik. Sebaik-baiknya istri, apabila dipandang suaminya menyenangkan, bila diperintah ia taat, bila suami tidak ada, ia jaga harta suaminya dan ia jaga kehormatan dirinya” (Al Hadits)

“Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah : a. Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah. b. Budak yang menebus dirinya dari tuannya. c. Pemuda / i yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim)

“Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud)

“Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak” (HR. Abu Dawud)

“Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain” (HR. Abdurrazak dan Baihaqi)

“Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah” (HR. Bukhari)

“Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup membujang” (HR. Abu Ya¡¦la dan Thabrani)

“Dari Anas, Rasulullah SAW. pernah bersabda : Barang siapa mau bertemu dengan Allah dalam keadaan bersih lagi suci, maka kawinkanlah dengan perempuan terhormat” (HR. Ibnu Majah,dhaif)

“Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka” (Al Hadits)

“Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya” (HR. Thabrani)

“Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta / tahtanya mungkin saja harta / tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama” (HR. Ibnu Majah)

“Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda : Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama” (HR. Muslim dan Tirmidzi)

“Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya” (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih)

“Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali pernikahannya.” (HR. Ashhabus Sunan)

“Sesungguhnya berkah nikah yang besar ialah yang sederhana belanjanya (maharnya)” (HR. Ahmad)

“Dari Anas, dia berkata : ” Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim dengan mahar berupa keIslamannya” (Ditakhrij dari An Nasa’i)

“Adakanlah perayaan sekalipun hanya memotong seekor kambing.” (HR. Bukhari dan Muslim)

www.lingkarcahaya.com

Hikmah Mimpi Rasulullah Muhammad saw



Samuroh bin Jundub ra berkata: Rasulullah Muhammad saw sering bertanya kepada para sahabat: “Adakah di antara kamu yang bermimpi?” Maka diceritakanlah kepada Rasulullah Muhammad saw apa yang telah dimpikannya.

Dan pada suatu hari Rasulullah Muhammad saw bersabda: “Semalam aku telah didatangi dua orang yang mengajakku pergi, dan ketika kami dalam perjalanan, tiba-tiba ada orang yang sedang bebaring dan di depannya ada orang berdiri memegang batu besar yang kemudian memukulkan batu itu ke kepala orang yang berbaring tersebut, hingga remuklah kepalanya dan tergelincirlah batunya. Setelah itu, segera diambil kembali batu itu, sedang kepala yang remuk itu  pun telah pulih kembali, lalu di kepruk lagi sebagaimana semula. Aku pun (Rasulullah Muhammad saw) berkata: “Subhanallah, apakah itu?” Kedua orang itu berkata: “Mari berjalan terus”. Maka kami berjalan hingga bertemu dua orang, yang satu berbaring telentang, sedang yang lain berdiri memegang bantolan besi, maka dibantolkan ke pipi, lobang hidung dan mata, lalu ditarik ke belakang. Kemudian pindah ke sebelah kiri dan dibantolkan demikian pula, tiap-tiap selesai lalu pulih kembali, dan diulangi seperti itu, dan aku pun (Rasulullah Muhammad saw) berkata: “Subhanallah, apakah itu?” Dan dua orangitu terus mengajak berjalan hingga bertemu sesuatu yang berbentuk dapur api, dan terdengar di dalamnya hiru-pikuk, maka ketika  aku lihat di dalamnya, terdapat orang-orang  laki dan perempuan telanjang, dan apabila timbul nyala api dari bawah mereka, menjeritlah mereka. Aku pun (Rasulullah Muhammad saw) bertanya: “Apakah mereka itu?” Kedua orang itu mengajak berjalan terus, hingga kami sampai ke sungai yang berwarna merah bagaikan darah, dan di sungai itu ada orang yang berenang, sedang di tepi sungai ada orang yang mengumpulkan batu-batu, maka apabila yang berenang itu sampai datang kepada yang di tepi sungai dan membuka mulutnya, lalu dimasuki batu, kemudian berenang kembali ke tengah, kemudian kembali pula membuka mulutnya dan diisi batu,demikian berulang-ulang hingga aku (Rasulullah Muhammad saw) bertanya: “Apakah itu?” Dan aku terus diajak berjalan, hingga bertemu dengan orang yang sangat keji (buruk) rupanya, sedang menyalakan api lalu dia berjalan di sekitarnya.

Aku (Rasulullah Muhammad saw) juga bertanya: “Apakah itu?” Dan aku terus diajak berjalan hingga sampai ke sebuah kebun yang luas dan penuh dengan bunga, dan di situ terdapat seorang yang tinggi, aku hampir tidak dapat melihat kepalanya, dan di sekitar orang itu terdapat banyak anak-anak. Aku  pun (Rasulullah Muhammad saw) bertanya: “Apakah itu?” Tetapi aku terus diajak berjalan hingga sampai ke sebuah pohon yang sangat besar dan indah, tiba-tiba aku diperintah untuk mendaki, kami pun mendaki hingga sampai ke kota yang terbangun dari emas dan perak dan ketika kami sampai ke pintu kota, kami ketuk pintunya hingga dibuka, dan kami masuk. Di samping itu ada pula orang-orang yang sangat jelek, tetapi orang-orang yang jelek (buruk) itu diperintah mandi dari sebuahsungai yang sangat jernih airnya, kemudian setelah mandi berubahlah wajah mereka sama dengan orang-orang yang bagus-bagus itu, maka kedua orang yang membawa aku (Rasulullah Muhammad saw) itu berkata: “Ini sorga Jannatu ‘And, dan itu di atas tempatmu”. Maka aku melihat ke atas, tiba-tiba ada sebuah gedung bagaikan awan putih di udara, maka aku berkata kepada keduanya: “Baarakallahu fikuma, lepaskanlah aku masuk ke gedung itu”. Jawab keduanya: “Kini belum tiba masanya, tetapi kelak engkau pasti akan masuk ke dalamnya”. Kemudian aku menanyakan: “Semua kejadian-kejadian yang telah kulihat itu?” Jawab keduanya: “Kini akan kami beritahukan kepadamu: ‘Adapun orang yang dikepruk kepalanya dengan batu, maka orang itu telah mempelajari Quran lalu mengabaikannya, dan tidak sholat fardhu. Adapun orang yang dirobek pipi, hidung, dan matanya ke belakang, maka itu orang yang membuat berita bohong hingga tersiar ke seluruh penjuru. Adapun orang-orang lelaki, perempuan yang telanjang dan berada di dapur, maka itulah pelacur. Adapun orang yang berenang di sungai darah dan makan batu, maka itu rentenir (pemakan riba). Adapun orang yang menyalakan api, maka itu malaikat Malik penjaga api neraka. Adapun orang tinggi di kebun, maka itu Nabi Ibrahim AS, sedangkan anak-anak yang berada di sekitarnya, maka mereka itulah anak-anak yang mati kecil (mati atas fitrah)’”. Kemudian seseorang bertanya kepada Rasulullah Muhammad saw: “Dan anak kamu musyrikin ya Rasulullah?” Jawab Rasulullah Muhammad saw: “Dan anak kaum musyrikin. Adapun orang-orang yang bagus-bagus dan ada yang busuk, maka itulah orang yang mencampur antara amal kebaikan dengan kejahatan, tetapi Allah swt memaafkan mereka”.” (HR. Bukhari, dalam kitab Riyadhus Shalihin II)
Ada beberapa hikmah yang dapat kita petik dari sekelumit kisah atau mimpi Rasulullah Muhammad saw di atas, yang di antaranya adalah:

    Larangan untuk mengabaikan Al Quran dan meninggalkan sholat fardhu. “Adapun orang yang dikepruk kepalanya dengan batu, maka orang itu telah mempelajari Quran lalu mengabaikannya, dan tidak sholat fardhu”.
    Larangan untuk berdusta, ghibah, dan memfitnah. “Adapun orang yang dirobek pipi, hidung, dan matanya ke belakang, maka itu orang yang membuat berita bohong hingga tersiar ke seluruh penjuru”.
    Larangan untuk berzina. “Adapun orang-orang lelaki, perempuan yang telanjang dan berada di dapur, maka itulah pelacur”.
    Larangan memakan harta dengan cara yang batil (riba). “Adapun orang yang berenang di sungai darah dan makan batu, maka itu rentenir (pemakan riba).”
    Larangan untuk terlalu meratapi kematian anak yang masih kecil (yang masih bayi atau belum baligh), karena insya Allah mereka akan mendapatkan tempat yang baik di akhirat kelak. “Dan aku terus diajak berjalan hingga sampai ke sebuah kebun yang luas dan penuh dengan bunga, dan di situ terdapat seorang yang tinggi, aku hampir tidak dapat melihat kepalanya, dan di sekitar orang itu terdapat banyak anak-anak.”
    Larangan untuk mencampur-adukkan antara yang haq dengan yang batil. “Di samping itu ada pula orang-orang yang sangat jelek, tetapi orang-orang yang jelek (buruk) itu diperintah mandi dari sebuahsungai yang sangat jernih airnya, kemudian setelah mandi berubahlah wajah mereka sama dengan orang-orang yang bagus-bagus itu”.

www.syahadat.com

Wanita sholihah

Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah Muhammad saw bersabda: “Berpesan-pesan baiklah kamu kepada perempuan, karena wanita itu terjadi dari tulang rusuk yang bengkok, maka kalau kau paksa meluruskannya dengan kekerasan pasti patah, dan jika kau biarkan tentu akan tetap bengkok, karena itu berpesan-pesan baiklah terhadap wanita itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain: “Wanita itu bagaikan tulang rusuk yang melengkung, jika kau paksa untuk meluruskannya berarti akan mematahkannya, dan jika kau hanya mencari kepuasan dari padanya berarti mencari kepuasan dan tetap ia bengkok.”
Dalam riwayat lain: “Wanita itu terjadi dari tulang rusuk, yang tidak dapat tetap pada suatu peraturan, maka kalau kau hanya bersuka-suka padanya, berarti bersuka-suka dalam bengkoknya, dan jika kau paksa meluruskannya berarti akan mematahkannya. Dan patah itu berarti cerainya. Jadi harus selalu berlaku bijaksana menghadapi wanita itu, supaya dapat menjadi baik.”
Abdullah bin Zam’ah ra. telah mendengar Rasulullah Muhammad saw berkhutbah, dan menyebut onta mu’jizat Nabi Salih, serta orang yang membunuhnya. Bersabda Rasulullah Muhammad saw: “Ketika bangkit orang terkejam. Bangkit seorang algojo yang amat kejam, yang disegani oleh kaumnya. Kemudian melanjutkan khutbahnya, dan menyebut wanita, maka nabi Muhammad saw bersabda: Sengaja salah satu kamu memukul isterinya bagaikan memukul hamba sahayanya, kemudian kemungkinan pada malam harinya disetubuhinya. Kemudian Nabi Muhammad saw menasihati mereka karena tertawa dan kentut, sabda Rasulullah Muhammad saw: Mengapakah tertawa salah satu kamu dari kejadian tersebut?” (HR. Bukhari dan Muslim)
Abu hurairah ra. berkata: Bersabda Rasulullah Muhammad saw: “Jangan membenci seorang mu’min (lelaki) pada mu’minat (perempuan), jika ia tidak suka suatu kelakuannya, pasti ada juga kelakuan lainnya yang memuaskannya.” (HR. Muslim)
Amru bin Al’ahwash Al-Djusjamy ra. ia telah mendengar Rasulullah Muhammad saw berkhutbah dalam Hajjatul-wada’, sesudah memuji syukur kepada Allah swt bersabda: “Ingatlah, berpesan-pesan baiklah kepada isteri-isteri karena mereka hanya yang ditentukan oleh agama itu belaka. Terkecuali jika mereka berbuat keji yang terang-terang, maka kalau sampai terjadi yang demikian, tinggalkanlah mereka di tempat tidur, dan pukullah dengan pukulan yang tidak membahayakan, dan apabila telah taat kembali, janganlah diganggu dengan cela atau lain-lainnya. Ingatlah, sesungguhnya bagimu ada hak atas isterimu, sebagaimana isterimu juga mempunyai hak atas kamu. Hakmu yang harus mereka jaga, tidak boleh memasukkan orang yang kamu tidak suka dalam bilikmu, dan tidak mengizinkan orang yang kamu tidak suka harus bergaul baik pada mereka, terutama dalam memberi pakaian dan makanan. (HR. At Tirmidzi)
Mu’awijah bin Haidah ra. bertanya: “Ya Rasulullah apakah hak seorang isteri terhadap suaminya?” Jawab Rasulullah Muhammad saw: “Harus kau beri makan jika kau makan, dan kau beri pakaian jika kau berpakaian, dan jangan memukul muka, dan jangan menjelekkannya, dan jangan memboikot kecuali dalam rumah saja.” (Abu Dawud)
Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah saw bersabda: “Sesempurna-sempurnanya orang mukmin dalam imannya ialah yang terbaik budi pekertinya. Dan sebaik-baiknya kamu adalah yang terbaik pergaulannya terhadap isterinya.” (HR. At Tirmidzi)
Ijaas bin Abdullah bin Abu Dzubab ra. berkata: Rasulullah Muhammad saw bersabda: “Jangan kamu memukul kaum wanita (hamba-hamba Allah). Maka datang Umar kepada Rasulullah Muhammad saw dan berkata: “Kini para isteri jadi berani kepada suaminya, sehingga Rasulullah Muhammad saw mengizinkan memukul mereka”. Mendadak rumah Rasulullah Muhammad saw telah dikerumuni oleh kaum wanita yang akan mengadukan kekajaman suaminya, maka bersabda Rasulullah Muhammad saw: “Sungguh telah mengelilingi rumah Rasulullah saw banyak sekali dari kaum wanita, mengeluh tentang kekejaman suaminya, mereka bukan orang yang baik di antara kamu.” (HR. Abu Dawud)
Abdullah bin Amru bin Al-‘Ash ra. berkata: Rasulullah Muhammad saw bersabda: “Dunia adalah kesenangan sementara, dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim)
www.syahadat.com

Orang-Orang Munafik

Hadis riwayat Zaid bin Arqam ra., ia berkata:
Kami pernah keluar bersama Rasulullah saw. dalam suatu perjalanan di mana orang-orang banyak yang tertimpa musibah. Lalu Abdullah bin Ubay berkata kepada para pengikutnya: Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang Muhajirin yang ada di sisi Rasulullah saw. supaya mereka bubar meninggalkan Rasulullah saw. dari sekitarnya Zuhair berkata: Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya. Kata Zaid bin Arqam selanjutnya: Lalu aku datang melaporkan kepada Nabi saw. tentang ucapan Abdullah bin Ubay itu. Rasulullah saw. memanggil Abdullah bin Ubay untuk menanyakan hal itu. Tetapi, Abdullah bersumpah tidak pernah berkata demikian. Dia berkata: Zaid berbohong kepada Rasulullah saw. Aku merasa sangat susah mendengar perkataan itu, sampai Allah menurunkan ayat yang menyatakan kebenaranku: Apabila orang-orang munafik datang kepadamu. Kemudian Nabi saw. memanggil mereka (Abdullah bin Ubay dan para pengikutnya) untuk dimintakan ampun, tetapi mereka membuang muka (menolak dan berpaling), Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandarkan. Mereka sebenarnya adalah orang-orang yang bertubuh bagus. (Shahih Muslim No.4976)

Hadis riwayat Jabir ra., ia berkata:
Nabi saw. mendatangi kuburan Abdullah bin Ubay lalu mengeluarkan jasad Abdullah dari kuburannya kemudian meletakkannya di atas kedua lutut beliau dan meludahinya serta memakaikannya baju gamis beliau. Wallahu a`lam. (Shahih Muslim No.4977)

Hadis riwayat Ibnu Masud ra., ia berkata:
Ada tiga orang yang berkumpul di dekat Baitullah, dua orang dari Quraisy dan seorang dari Tsaqafi atau dua orang dari Tsaqafi dan seorang Quraisy. Mereka adalah orang-orang yang memiliki sedikit pemahaman agama yang selalu disibuki oleh urusan perut mereka. Salah seorang di antara mereka berkata: Apakah kamu berpendapat bahwa Allah akan mendengar apa yang kita bicarakan? Seorang lagi menjawab: Allah akan mendengar apabila kita mengeraskan suara dan tidak akan mendengar jika kita merendahkan suara. Yang lain lagi membantah: Jika Allah mendengar bila kita mengeraskan suara, maka Dia pasti akan mendengar bila kita merendahkan suara pembicaraan! Lalu Allah menurunkan ayat: Dan kamu sekalian sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan dan kulit kalian terhadap kalian. (Shahih Muslim No.4979)

Hadis riwayat Zaid bin Tsabit ra.:
Bahwa Nabi saw. berangkat untuk berperang di bukit Uhud lalu kembalilah sebagian dari mereka yang ikut bersama beliau sehingga terpecahlah para pengikut Nabi saw. menjadi dua bagian. Sebagian mereka mengatakan kita akan bunuh mereka dan sebagian lagi berpendapat tidak. Lalu turunlah ayat: Maka mengapa kamu terpecah menjadi dua golongan dalam menghadapi orang-orang munafik. (Shahih Muslim No.4980)

Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra.:
Bahwa beberapa orang munafik pada masa Rasulullah saw. selalu tidak ikut serta bila Nabi saw. pergi berperang. Mereka bergembira-ria dengan ketidakikutsertaan mereka bersama Rasulullah saw. Lalu apabila Nabi saw. telah kembali, mereka mengemukakan alasan kepada beliau sambil bersumpah dan berharap mendapatkan pujian dengan apa yang tidak mereka perbuat. Maka turunlah ayat: Janganlah sekali-kali kamu menyangka, bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan, janganlah kamu menyangka mereka akan terlepas dari siksa. (Shahih Muslim No.4981)

Hadis riwayat Ibnu Abbas ra.:
Dari Humaid bin Abdurrahman bin Auf, bahwa Marwan berkata kepada penjaga pintunya: Hai Rafi`! Pergilah kepada Ibnu Abbas dan katakan: Jika sekiranya setiap orang di antara kita akan mendapatkan siksa karena merasa gembira dengan apa yang telah diperolehnya dan ingin dipuji dengan apa yang tidak dia kerjakan, tentu kita semua akan disiksa. Ibnu Abbas berkata: Apa hubungan ayat ini dengan kamu! Ayat ini diturunkan berkenaan dengan Ahli Kitab. Kemudian Ibnu Abbas membaca: Dan ingatlah ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab, yaitu hendaklah kalian menerangkan isi kitab itu kepada manusia dan jangan kalian menyembunyikannya. Ibnu Abbas juga membaca: Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang tidak mereka kerjakan. Selanjutnya ia berkata: Nabi saw. bertanya kepada mereka tentang sesuatu, tetapi mereka menyembunyikannya dan memberikan jawaban yang lain kemudian mereka keluar. Mereka merasa telah memberitahukan apa yang ditanyakan kepada mereka dan mengharap pujian dengan itu. Mereka gembira dengan jawaban yang tidak ada sangkut-pautnya dengan pertanyaan. (Shahih Muslim No.4982)

Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
Di antara kami terdapat seorang lelaki dari Bani Najjar yang telah membaca surat Al-Baqarah dan surat Ali Imran serta pernah menjadi penulis wahyu Rasulullah saw. lalu dia melarikan diri dan bergabung dengan Ahli Kitab yang menyanjung-nyanjungnya. Kata mereka: Orang ini pernah menjadi penulis wahyu Muhammad. Sehingga mereka pun terkagum dengannya. Tidak berapa lama berada di antara Ahli Kitab, Allah menimpakan bencana kepada orang itu sehingga binasalah ia. Orang-orang Ahli Kitab segera menggalikan kuburan untuknya lalu menimbunkan tanah ke atas jasadnya. Keesokan harinya, bumi telah memuntahkan jasadnya ke atas permukaan. Mereka pun kembali menggali kubur dan menimbun tetapi keesokan paginya bumi telah memuntahkannya lagi ke atas permukaan. Kemudian mereka menggali dan menguburnya lagi. Namun keesokan paginya bumi kembali memuntahkannya ke atas permukaan lalu mereka pun membiarkan jasadnya terbuang. (Shahih Muslim No.4987)
 posted from http://naunganislami.wordpress.com/

KEUTAMAAN SHOLAT SHUBUH DAN ASHAR


Dari Abu Musa r.a. bahwasanya Rasulullah saw
bersabda:
“Barangsiapa yang mengerjakan sholat bardain – yakni sholat Subuh dan sholat Asar, maka ia akan masuk syurga.” (Muttafaq ‘alaih)
Dari Abu Zuhairyaitu Umarah bin Ruwaibah ra., katanya: “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda:
“Tidak akan masuk neraka seseorang yang mengerjakan sholat sebelum terbitnya matahari dan sebelum terbenamnya,” yakni sholat Subuh dan sholat Asar. (Riwayat Muslim)
Dari Jundub bin Sufyan ra., katanya: ” Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa yang mengerjakan sholat Subuh, maka ia adalah dalam tanggungan Allah – yakni mengenai keselamatan dirinya dan Iain-Iain. Maka perhatikanlah, hai anak Adam – yakni manusia, janganlah sampai Allah itu menuntut kepadamu sesuatu dari tanggungannya.” (Riwayat Muslim)
Dari Abu Hurairah ra., katanya: “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda:
“Berganti-gantilah untuk menyertai engkau semua beberapa malaikat di waktu malam dan beberapa malaikat di waktu siang. Mereka sama berkumpul dalam sholat Subuh dan sholat Asar. Kemudian naiklah malaikat yang bermalam denganmu semua itu, lalu Allah bertanya kepada mereka, padahal sebenarnya Allah adalah lebih Maha Mengetahui tentang hal-ihwal hamba-hamba-Nya, tanyaNya: “Bagaimanakah engkau semua meninggalkan hamba-hambaKu?” lalu para malaikat itu menjawab: “Kita meninggalkan mereka dan mereka sedang melakukan sholat dan sewaktu kita mendatangi mereka itu, juga di waktu mereka melakukan sholat.” (Muttafaq ‘alaih)
Dari Jarir bin Abdullah al-Bajali ra., katanya: “Kita semua ada di sisi Rasulullah saw. Beliau saw lalu melihat bulan di malam bulan purnama – yakni tanggal empatbelas bulan hijriyah, kemudian beliau bersabda: “Engkau semua akan dapat melihat Tuhanmu sebagaimana engkau semua melihat bulan ini, tidak akan memperoleh kesukaran engkau semua dalam melihatNya itu. Maka jikalau engkau semua dapati tidak akan dialahkan oleh sholat sebelum terbitnya matahari dan sebelum terbenamnya, maka lakukanlah itu,” maksudnya jangan sampai dialahkan oleh sesuatu hal sehingga tidak melakukan kedua sholat itu dan jelasnya ini adalah merupakan perintah wajib. (Muttafaq ‘alaih)
Dalam suatu riwayat disebutkan: “Beliau saw lalu melihat ke bulan pada malam bulan purnama itu – yakni bulan tanggal empat belas.”
Dari Buraidah ra., katanya: “Nabi saw bersabda: “Barangsiapa yang meninggalkan sholat Asar, maka leburlah -yakni rusaklah – amal kelakuannya.” (Riwayat Bukhari)

POSTED FROM= http://naunganislami.wordpress.com

Rabu, 05 Februari 2014

SHOLAT SUNNAH



Shalat-shalat Sunnah.
        Selain shalat wajib, juga ada shalat sunnah. Macamnya ada lima belas shalat, yaitu :
 1.    Shalat Wudhu, Yaitu shalat sunnah dua rakaat yang bisa dikerjakan setiap selesai wudhu, niatnya :
 �Ushalli sunnatal wudlu-I rak�ataini lillahi Ta�aalaa� artinya : �aku niat shalat sunnah wudhu dua rakaat karena Allah�
2.     Shalat Tahiyatul Masjid, yaitu shalat sunnah dua rakaat yang dikerjakan ketika memasuki masjid, sebelum duduk untuk menghormati masjid. Rasulullah bersabda �Apabila seseorang diantara kamu masuk masjid, maka janganlah hendak duduk sebelum shalat dua rakaat lebih dahulu� (H.R. Bukhari dan Muslim). Niatnya :

�Ushalli sunnatal Tahiyatul Masjidi  rak�ataini lillahi Ta�aalaa� Artinya : �aku niat shalat sunnah tahiyatul masjid dua rakaat karena Allah�
3.      Shalat Dhuha. Adalah shalat sunnah yang dikerjakan ketika matahari baru naik. Jumlah rakaatnya miimal 2 maksimal 12. Dari Anas berkata Rasulullah �Barang siapa shalat Dhuha 12 rakaat, Allah akan membuatkan untuknya istana disurga� (H.R. Tarmiji dan Abu Majah). Niatnya :
  �Ushalli sunnatal Dhuha rak�ataini lillahi Ta�aalaa� Artinya : �aku niat shalat sunnah dhuha dua rakaat karena Allah�
4.      Shalat Rawatib. Adalah shalat sunnah yang dikerjakan mengiringi shalat fardhu. Niatnya :
a.      Qabliyah, adalah shalat sunnah rawatib yang dikerjakan sebelum shalat wajib. Waktunya : 2 rakaat sebelum shalat subuh, 2 rakaat sebelum shalat Dzuhur, 2 atau 4 rakaat sebelum shalat Ashar, dan 2 rakaat sebelum shalat Isya�. Niatnya:

�Ushalli sunnatadh Dzuhri*  rak�ataini Qibliyyatan lillahi Ta�aalaa� Artinya : �aku niat shalat sunnah sebelum dzuhur dua rakaat karena Allah�
* bisa diganti dengan shalat wajib yang akan dikerjakan.
b.     Ba�diyyah, adalah shalat sunnah rawatib yang dikerjakan setelah shalat fardhu. Waktunya : 2 atau 4 rakaat sesudah shalat Dzuhur, 2 rakaat sesudah shalat Magrib dan 2 rakaat sesudah shalat Isya. Niatnya :

�Ushalli sunnatadh Dzuhri*  rak�ataini Ba�diyyatan lillahi Ta�aalaa� Artinya : �aku niat shalat sunnah sesudah  dzuhur dua rakaat karena Allah�
* bisa diganti dengan shalat wajib yang akan dikerjakan.
5.     Shalat Tahajud, adalah shalat sunnah pada waktu malam. Sebaiknya lewat tengah malam. Dan setelah tidur. Minimal 2 rakaat maksimal sebatas kemampuan kita. Keutamaan shalat ini, diterangkan dalam Al-Qur�an. �Dan pada sebagian malam hari bershalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ketempat yang terpuji� (Q.S. Al Isra : 79 ). Niatnya :

�Ushalli sunnatal tahajjudi  rak�ataini lillahi Ta�aalaa� Artinya : �aku niat shalat sunnah tahajjud dua rakaat karena Allah�
6.     Shalat Istikharah, adalah shalat sunnah dua rakaat untuk meminta petunjuk yang baik, apabila kita menghadapi dua pilihan, atau ragu dalam mengambil keputusan. Sebaiknya dikerjakan pada 2/3 malam terakhir. Niatnya :

�Ushalli sunnatal Istikharah  rak�ataini lillahi Ta�aalaa� Artinya : �aku niat shalat sunnah Istikharah dua rakaat karena Allah�
7.     Shalat Hajat, adala shalat sunnah dua rakaat untuk memohon agar hajat kita dikabulkan atau diperkenankan oleh Allah SWT. Minimal 2 rakaat maksimal 12 rakaat dengan salam setiap 2 rakaat. Niatnya :

�Ushalli sunnatal Haajati  rak�ataini lillahi Ta�aalaa� Artinya : �aku niat shalat sunnah hajat dua rakaat karena Allah�
8.     Shalat Mutlaq, adalah shalat sunnah tanpa sebab dan tidak ditentukan waktunya, juga tidak dibatasi jumlah rakaatnya. �Shalat itu suatu perkara yang baik, banyak atau sedikit� (Al Hadis). Niatnya :

�Ushalli sunnatal rak�ataini lillahi Ta�aalaa� Artinya : �aku niat shalat sunnah dua rakaat karena Allah�
9.     Shalat Taubat, adalah shalat sunnah yang dilakukan setelah merasa berbuat dosa kepada Allah SWT, agar mendapat ampunan-Nya. Niatnya:

�Ushalli sunnatal Taubati  rak�ataini lillahi Ta�aalaa� Artinya : �aku niat shalat sunnah taubat  dua rakaat karena Allah�
10.   Shalat Tasbih, adalah shalat sunnah yang dianjurkan dikerjakan setiap malam, jika tidak bisa seminggu sekali, atau paling tidak seumur hidup sekali. Shalat ini sebanyak empat rakaat, dengan ketentuan jika dikerjakan pada siang hari cukup dengan satu salam, Jika dikerjakan pada malam hari dengan dua salam. Cara mengerjakannya
a.      Niat : 
�Ushalli sunnatan tasbihi raka�ataini lilllahi ta�aalaa� artinya �aku niat shalat sunnah tasbih dua rakaat karena Allah�
b.     Usai membaca surat Al Fatehah membaca tasbih 15 kali.
c.      Saat ruku�, usai membaca do�a ruku membaca tasbih 10 kali
d.     Saat �itidal, usai membaca do�a �itidal membaca tasbih 10 kali
e.      Saat sujud, usai membaca doa sujud membaca tasbih 10 kali
f.      Usai membaa do�a duduk diantara dua sujud membaca tasbi 10 kali.
g.     Usai membaca doa sujud kedua membaca tasbih 10 kali.
       Jumlah keseluruhan tasbih yang dibaca pada setiap rakaatnya sebanyak 75 kali. Lafadz bacaan tasbih yang dimaksud adalah sebagai berikut :

�Subhanallah wal hamdu lillahi walaa ilaaha illallahu wallahu akbar� artinya : �Maha suci Allah yang Maha Esa. Segala puji bagi Akkah, Dzat yang Maha Agung�.
11.  Shalat Tarawih,  adalah shalat sunnah sesudah shalat Isya� pada bulan Ramadhan. Menegenai bilangan rakaatnya disebutkan dalam hadis. �Yang dikerjakan oleh Rasulullah saw, baik pada bulan ramadhan atau lainnya tidak lebih dari sebelas rakaat� (H.R. Bukhari). Dari Jabir �Sesungguhnya Nabi saw telah shallat bersama-sama mereka delapan rakaat, kemudian beliau shalat witir.� (H.R. Ibnu Hiban)

       Pada masa khalifah Umar bin Khathtab, shalat tarawih dikerjakan sebanyak 20 rakaat dan hal ini tidak dibantah oleh para sahabat terkenal dan terkemuka. Kemudian pada zaman Umar bin Abdul Aziz bilangannya dijadikan 36 rakaat. Dengan demikian bilangan rakaatnya tidak ditetapkan secara pasti dalam syara�, jadi tergantung pada kemampuan kita masing-masing, asal tidak kurang dari 8 rakaat. Niat shalat tarawih :

�Ushalli sunnatan Taraawiihi rak�ataini (Imamam/makmuman) lillahi ta�aallaa� artinya : �Aku niat shalat sunat tarawih dua rakaat (imamam/makmum) karena Allah�
12.   Shalat Witir, adalah shalat sunnat mu�akad (dianjurkan) yang biasanya dirangkaikan dengan shalat tarawih, Bilangan shalat witir 1, 3, 5, 7 sampai 11 rakaat. Dari Abu Aiyub, berkata Rasulullah �Witir itu hak, maka siapa yang suka mengerjakan lima, kerjakanlah. Siapa yang suka mengerjakan tiga, kerjakanlah. Dan siapa yang suka satu maka kerjakanlah�(H.R. Abu Daud dan Nasai). Dari Aisyah : �Adalah nabi saw. Shalat sebelas rakaat diantara shalat isya� dan terbit fajar. Beliau memberi salam setiap dua rakaatdan yang penghabisan satu rakaat� (H.R. Bukhari dan Muslim)

�Ushalli sunnatal witri rak�atan lillahi ta�aalaa�artinya : �Aku niat shalat sunnat witir dua rakaat karena Allah�
13.  Shalat Hari Raya, adalah shalat Idul Fitri pada 1 Syawal dan Idul Adha pada 10 Dzulhijah. Hukumnya sunat Mu�akad (dianjurkan).�Sesungguhnya kami telah memberi engkau (yaa Muhammad) akan kebajikan yang banyak, sebab itu shalatlah engkau dan berqurbanlah karena Tuhanmu pada Idul Adh -(Q.S. Al Kautsar.1-2)  Dari Ibnu Umar �Rasulullah, Abu Bakar, Umar pernah melakukan shalat pada dua hari raya sebelum berkhutbah.�(H.R. Jama�ah). Niat Shalat Idul Fitri :
�Ushalli sunnatal li�iidil fitri rak�ataini (imamam/makmumam) lillahita�aalaa� artinya : �Aku niat shalat idul fitri dua rakaat (imam/makmum) karena Allah�
Niat Shalat Idul Adha :
  �Ushalli sunnatal li�iidil Adha rak�ataini (imamam/makmumam) lillahita�aalaa� artinya : �Aku niat shalat idul adha dua rakaat (imam/makmum) karena Allah�
       Waktu shalat hari raya adalah setelah terbit matahari sampai condongnya matahari. Syarat, rukun dan sunnatnya sama seperti shalat yang lainnya. Hanya ditambah beberapa sunnat sebagai berikut :
a.      Berjamaah
b.     Takbir tujuh kali pada rakaat pertama, dan lima kali pada rakat kedua
c.      Mengangkat tangan setinggi bahu pada setiap takbir.
d.     Setelah takbir yang kedua sampai takbir yang terakhir membaca tasbih.
e.      Membaca surat Qaf dirakaat pertama dan surat Al Qomar di rakaat kedua. Atau surat A�la dirakat pertama dan surat Al Ghasiyah pada rakaat kedua.
f.      Imam menyaringkan bacaannya.
g.     Khutbah dua kali setelah shalat sebagaimana khutbah jum�at
h.     Pada khutbah Idul Fitri memaparkan tentang zakat fitrah dan pada Idul Adha tentang hukum � hukum Qurban.
i.       Mandi, berhias, memakai pakaian sebaik-baiknya.
j.       Makan terlebih dahulu pada shalat Idul Fitri pada Shalat Idul Adha sebaliknya.
14.  Shalat Khusuf, adalah shalat sunat sewaktu terjadi gerhana bulan atau matahari. Minimal dua rakaat. Caranya mengerjakannya :
a.      Shalat dua rakaat dengan 4 kali ruku� yaitu pada rakaat pertama, setelah ruku� dan I�tidal membaca fatihah lagi kemudian ruku� dan I�tidal kembali setelah itu sujud sebagaimana biasa. Begitu pula pada rakaat kedua.
b.     Disunatkan membaca surat yang panjang, sedang membacanya pada waktu gerhana bulan harus nyaring sedangkan pada gerhana matahari sebaliknya.
Niat shalat gerhana bulan :
�Ushalli sunnatal khusuufi rak�ataini  lillahita�aalaa� artinya : �Aku niat shalat gerhana bulan  dua rakaat  karena Allah�
15.   Shalat Istiqa�,adalah shalat sunat yang dikerjakan untuk memohon hujan kepada Allah SWT. Niatnya �

�Ushalli sunnatal Istisqaa-I  rak�ataini (imamam/makmumam) lillahita�aalaa� artinya : �Aku niat shalat istisqaa dua rakaat (imam/makmum) karena Allah�
Syarat-syarat mengerjakana Shalat Istisqa :
a.        Tiga hari sebelumnya agar ulama memerintahkan umatnya bertaobat dengan berpusa dan meninggalkan segala kedzaliman serta menganjurkan beramal shaleh. Sebab menumpuknya dosa itu mengakibatkan hilangnya rejeki dan datangnya murka Allah. �Apabila kami hendak membinasakan suatu negeri, maka lebih dulu kami perbanyak orang-orang yang fasik, sebab kefasikannyalah mereka disiksa, lalu kami robohkan (hancurkan) negeri mereka sehancur-hancurnya�(Q.S. Al Isra� : 16).
b.       Pada hari keempat semua penduduk termasuk yang lemah dianjurkan pergi kelapangan dengan pakaian sederana dan tanpa wangi-wangian untuk shalat Istisqa�
c.        Usai shalat diadakan khutbah dua kali. Pada khutbah pertama hendaknya membaca istigfar 9 X dan pada khutbah kedua 7 X.
Pelaksanaan khutbah istisqa berbeda dengan khutbah lainnya, yaitu :
a.        Khatib disunatkan memakai selendang.
b.        Isi khutbah menganjurkan banyak beristigfar, dan berkeyakinan bahwa Allah SWT akan mengabulkan permintaan mereka.
c.        Saat berdo�a hendaknya mengangkat tangan setinggi-tingginya.
d.       Saat berdo�a pada khutbah kedua, khatib hendaknya menghadap kiblat membelakangi makmumnya

Kamis, 30 Januari 2014

Keistimewaan Sedekah: dari Quran dan Hadith


Quran


Bandingan (sedekah) orang-orang yang membelanjakan hartanya pada jalan Allah, ialah sama seperti sebiji benih yang tumbuh menerbitkan tujuh tangkai; tiap-tiap tangkai itu pula mengandungi seratus biji dan (ingatlah), Allah akan melipatgandakan pahala bagi sesiapa yang dikehendakiNya dan Allah Maha Luas (rahmat) kurniaNya, lagi Meliputi ilmu pengetahuanNya. (surah Al-Baqarah, 2: 261)

Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.  (Quran surah Al-Baqarah, 2: 274)

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah . Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.  
(surah Al-Baqarah, 2: 276)



Dan belanjakanlah (dermakanlah) sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepada kamu sebelum sampai ajal maut seseorang dari kamu, ( kalau tidak ) maka ia ( pada saat itu ) akan merayu dengan berkata : Wahai Tuhanku! Alangkah baiknya jika Engkau lambatkan kedatangan ajalku sekejap lagi, supaya aku dapat bersedekah dan dapat pula aku menjadi dari orang yang soleh. (Al-Munafiquun: 10)

Ambillah zakat dari sebahagian harta mereka, dengan zakat itu ia akan membersihkan dan menyucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka.  Sesunggunya dia kamu itu ( menjadi) ketenteraman buat mereka. Dan Allah( menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah mendengar lagi maha mengetahui. (At-taubah: 103)

Hadis


Dari Abu Hurairah r.a katanya : Seorang lelaki menghadap Rasulullah saw lalu bertanya: Wahai Rasulullah! Sedekah mana satu yang lebih besar? Nabi saw menjawab : Engkau bersedekah ketika sihat dan sangat sayangkan hartamu; ketika engkau takutkan kepapaan dan berharap hendakkan kaya-raya. Janganlah engkau bertangguh untuk bersedekah, sehingga apabila nyawa sampai ke kerongkong, barulah engkau berkata : Aku mahu bersedekah untuk si anu.. sekian untuk si anu dan sekian lagi untuk si anu. (H.R Al-Bukhari)

Sabda Rasulullah saw : “Sesungguhnya sedekah seseorang muslim itu memanjangkan umur dan mencegah dari mati dalam keadaan buruk dan Allah Taala pula menghapuskan sikap sombong dan membangga diri si penderma dengan sebab sedekahnya” (H.R. Tabrani )

Sabda Rasulullah s.a.w: "Bentengilah hartamu dengan zakat, ubati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersedekah dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana." (Hadis Riwayat: Imam Ath-Thabrani)

Tiap muslim wajib bersedekah. Para sahabat bertanya, "Bagaimana kalau dia tidak memiliki sesuatu?" Nabi s.a.w. menjawab, "Bekerja dengan keterampilan tangannya untuk kemanfaatan bagi dirinya lalu bersedekah." Mereka bertanya lagi. Bagaimana kalau dia tidak mampu?" Nabi menjawab: "Menolong orang yang memerlukan dan yang sedang teraniaya" Mereka bertanya: "Bagaimana kalau dia tidak melakukannya?" Nabi menjawab: "Menyuruh berbuat ma'ruf." Mereka bertanya: "Bagaimana kalau dia tidak melakukannya?" Nabi s.a.w. menjawab, "Mencegah diri dari berbuat kejahatan itulah sedekah." (Hadis Riwayat: Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Abu Dzarr R.a. berkata bahawa beberapa sahabat Rasulullah s.a.w. berkata, "Ya Rasulullah, orang-orang yang banyak hartanya memperoleh lebih banyak pahala. Mereka solat sebagaimana kami solat dan berpuasa sebagaimana kami berpuasa dan mereka boleh bersedekah dengan kelebihan harta mereka." Nabi s.a.w. lalu berkata, "Bukankah Allah telah memberimu apa yang dapat kamu sedekahkan? Tiap-tiap ucapan Tasbih adalah sedekah, Takbir sedekah, Tahmid sedekah, Tahlil sedekah, Amar Makruf sedekah, Nahi Mungkar sedekah, Berjimak dengan isteri pun sedekah." Para sahabat lalu bertanya, "Apakah memuaskan nafsu syahwat mendapat pahala?" Nabi menjawab, "Tidakkah kamu mengerti bahawa kalau dipuaskan nafsu syahwat di tempat yang haram bukankah itu berdosa? Begitu pula kalau syahwat diletakkan di tempat halal, maka dia memperoleh pahala. (Hadis Riwayat: Imam Muslim)


Syarat-syarat Ibadah dalam Islam

 Syarat-syarat Ibadah dalam Islam

Pengertian Ibadah:


Ibadah bermaksud semua amalan dan tindak tanduk yang syarie, yang dilaksanakan dengan jujur dan ikhlas, untuk dipersembahkan kepada ALLAH SWT.


Ibadah kepada ALLAH meliputi semua ibadah asas, ibadah tambahan dan perkara2 harus(mubah), dan hanya akan menjadi ‘berpahala’ jika pelaksanaannya menurut syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh syariat Islam.


Syarat-syarat tersebut dinamakan, ‘5 Syarat-syarat Ibadah Dalam Islam’.


Jika, sekiranya amalan-amalan kita tidak mengikuti syarat-syarat tersebut, maka ia hanya akan menjadi perbuatan yang sia-sia saja menurut pandangan ALLAH. Amalan itu tidak diberi pahala, bahkan adakalanya mendatangkan dosa pula.

Apakah ‘5 Syarat-syarat Ibadah’ tersebut?

1) Niat Mesti Betul

2) Perlaksanaan Mengikut Peraturan Syariat

3) Perkara/Subjek mesti Dibolehkan oleh Syariat.

4) Natijahnya memberi Manfaat

5) Tidak Meninggalkan Ibadah Asas.

Huraian lanjut:-

1) NIAT

Niat penting sebelum melaksanakan sesuatu. Ini juga untuk membedakan antara amal ibadah dengan amalan adat, dan antara niat karena ALLAH dengan niat karena yang lain-lain. Supaya setiap perlakuan menjadi ibadah, ia mesti dengan niat yang betul. Niat kerana menuruti perintah ALLAH SWT.

Sabda Rasulullah SAW, “Hanyasanya amalan-amalan itu sah dengan niat, dan adalah bagi setiap seorang itu menurut apa yang diniatkan".

Dan sabdanya lagi, “Niat orang mukmin itu adalah lebih baik daripada amalannya”.

2) PERLAKSANAAN

Perlaksanaan di dalam satu2 hal atau satu2 perkara mesti mengikut peraturan. Lebih2 lagi jika kita ingin melakukan ibadah, kita harus mendalami peraturan itu supaya kita benar2 di atas landasan syariat. Untuk menjayakan usaha manusia, perlaksanaannya mesti mengikut landasan yang Allah Taala telah tetapkan.

Allah memberi peringatan melalui firmanNya, “Dan jika mereka berjuang pada jalan Kami (ikut peraturan Kami) sesungguhnya Kami akan tunjukkan jalan Kami (jalan keselamatan) bahwasanya ALLAH beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al Ankabut: 69)



Dalam hal ini ulama juga berkata, “Yang hak kalau tidak ada peraturan, akan dikalahkan oleh yang batil yang ada peraturan.”



3. Perkara (Subjek) Mesti Dibolehkan oleh Syariat.


Perkara (subjek) yang hendak dilaksanakan itu mestilah yang dibolehkan oleh syariat, terutamanya perkara yang melibatkan makanan dan minuman.


Misalnya, seorang yang hendak berniaga mencari rezeki untuk keluarga, dengan berniaga barang makanan, yang hasilnya boleh juga menjadi makanan asas dan memberi manfaat kesihatan rohani dan jasmani kepada semua umat Islam.


Sabda Rasulullah SAW, “Tiap2 daging yang tumbuh daripada benda yang haram, maka Neraka adalah yang lebih patut dengannya. (Riwayat Tarmizi).



Dan, “Hati ditempa mengikut makanan dan minuman”.



Rasulullah SAW amat menekankan perkara yang berkaitan dengan makanan kerana hati yang merupakan raja dalam tubuh manusia itu dibina dari makanan. Hati yang dibina dari makanan yang haram akan menjadi degil dan sukar menerima kebenaran.



4. Natijahnya Memberi Bermanfaat



Natijah merupakan hasil usaha seseorang. Hasil itu semestinya baik karena ia merupakan pemberian ALLAH ataupun nikmatNya kepada hamba2Nya.



Hamba2 yang menerima pemberian itu wajib bersyukur kepada ALLAH SWT.



Bagaimanakah seseorang itu menunjukkan tanda bersyukur kepada ALLAH SWT?.



Di antaranya dengan berzakat, melakukan korban, serta membuat amal bakti seperti bersedekah dan sebagainya.



Sehubungan dengan itu, ALLAH berfirman, “Jika kamu bersyukur niscaya akan Aku tambah lagi nikmat-Ku kepadamu, dan jika kamu kufur sesungguhnya siksaan-Ku sangat dahsyat”.



Dengan itu, natijah setiap amalan agar menjadi ibadah ialah dengan membelanjakan keuntungan yang diperoleh atau hasil usaha setiap pelaksanaan untuk jalan ALLAH. Seperti dibelanjakan untuk membantu kaum miskin atau anak-anak yatim.



Jika berupa ilmu yang dicari, maka ilmu itu hendaklah digunakan sesuai dengan yang diredhai ALLAH. Bgitu pula dengan natijah-natijah yang lain. Mestilah digunakan untuk perkara-perkara yang benar-benar sah dan halal sahaja.



5. Tidak Meninggalkan Ibadah Asas.



Dua perkara utama yang menjadi asas ibadah ialah Rukun Iman dan Rukun Islam.



Kedua2nya merupakan tapak atau ‘platform’ untuk menegakkan amalan2 yang lain. Tanpa tapak, macamana nak dirikan binaan?



Di antara dua rukun tersebut, Rukun Iman menjadi ‘platform utama’, dan ianya yang pertama2 ilmu yang wajib diketahui, dan hendaklah dibina, dipupuk, dibaja dengan ‘keyakinan yang qatie’.



Ini selaras tuntutan dalam syariat Islam, iaitu “awal2 ilmu ialah mengenal Allah”.



Manakala, Rukun Islam menjadi perkara asas dalam jenis2 ibadah yang lain. Melaksanakan amalan yang dituntut di dalamnya adalah amalan asas, manakala amalan2 lain (seperti baca Al-Quran, wirid, dll) merupakan pelengkap ibadah.



Di antara 5 rukun Islam itu, solat sangat diberi perhatian oleh Rasulullah SAW. Sabdanya, “Shalat itu adalah tiang agama. Barang siapa telah mendirikannya maka dia telah mendirikan agama. Dan barang siapa yang meninggalkannya maka dia telah meruntuhkan agama."



Tambah baginda lagi, “Barangsiapa yang meninggalkan shalat dengan sengaja, nyatalah ia telah kafir."



Jadi sangat jelas, bahwa setiap amalan berasas kepada dua(2) perkara ini yang merupakan amalan yang paling wajib. Artinya tidak boleh ditinggalkan sama sekali. Jika tidak ada rukun Iman dan rukun Islam, maka seluruh amalan lain, tidak ada artinya lagi.



Demikianlah ‘Lima(5) Syarat-syarat Ibadah’ dalam Islam. Seandainya amalan-amalan kita tidak mengikuti kelima2 syarat di atas, maka tidak dapat diakui (diiktiraf) sebagai amalan Islam, bahkan dianggap amalan jahiliah. Amalan itu tidak diterima oleh ALLAH Taala.



Bagaimana tindakan kita agar amal kita memenuhi syarat-syarat yang disebutkan itu hingga menjadi ibadah?



Contoh:-



a) Melibatkan diri dalam perniagaan.



· Pertama, berniat kerana ALLAH, iaitu untuk menunaikan perintah ALLAH melaksanakan salah satu fardhu kifayah dalam bidang perniagaan.



Selain untuk membantu anggota masyarakat agar mendapat manfaat dari perniagaan kita, lebih2 lagi untuk membeli serta memenuhi keperluan hidupnya yang pokok.



Kalau perniagaannya berupa makanan, makanannya yang halal mestilah boleh mendorong seseorang Islam itu dapat beribadah dengan khusyuk, dan berperilaku sebagai seorang mukmin yang sejati. Kerana akhlak dan mental seseorang itu terpengaruh oleh zat makanan yang ditanggung halal, di mana fikiran yang baik memudah terima ilmu2 akhirat yang dipelajari.



Rasulullah SAW sendiri begitu mengutamakan perihal makanan karena kalau yang dimakan atau diminum itu kotor mengikut syariat islam, hati orang akan dibentuk sebegitu rupa hingga menjadi keras kepala dan sukar menerima kebenaran. Terkadang orang tersebut langsung menolak kebenaran dan menentangnya pula



Kalau perniagaan kita berbentuk perkhidmatan professional, seperti perubatan, guaman, juruperunding, dsb.nya maka niatnya mestilah untuk berkhidmat kepada anggota masyarakat Islam karena ALLAH.



Sebab, kalau perniagaan kita tidak diwujudkan, umat Islam akan susah karena terpaksa mendapatkan perkhidmatan dari orang yang bukan Islam, yang cenderung kepada tipu muslihat atau ‘ada udang di sebalik batu’.



Demikian sebaliknya, kalau perniagaan kita ‘tidak membantu’ masyarakat Islam mendapatkan keperluan2 asas fizikal dan mentalnya, seperti perniagaan yang membawa kehancuran hidup, maka sukarlah kita nak mengukuhkan niat yang betul. Contoh urusniaga adalah seperti perniagaan berasaskan riba, pusat video, pusat snooker, jual rokok, arak, dsb.nya.



· Kedua, pelaksanaan perniagaan. Iaitu dalam melakukan transaksi urusniaga mesti ada kejujuran, amanah dan bersih dari amalan-amalan yang bertentangan dengan syariat Islam dan sebagainya.



· Ketiga, subjek yang di’niaga’kan hendaklah terhindar dari hal-hal yang tidak halal atau tidak mengikut syariat Islam, seperti perniagaan menjual arak, rokok dan sebagainya.



· Keempat, natijah (hasil) dari perniagaan itu hendaklah ditunaikan haknya. Iaitu kalau beroleh keuntungan, kita hendaklah melakukan zakat, soal-soal pengorbanan serta turut membantu perjuangan menegakkan agama ALLAH serta membantu kaum yang miskin dan lemah.



· Kelima, dalam melakukan aktiviti perniagaan, kita tidak boleh meninggalkan ibadah asas, iaitu shalat, puasa dan sebagainya. Karena kesibukan itu tidak boleh dijadikan alasan untuk meninggalkan yang wajib.



b) Mencari ilmu dan belajar.



· Pertama, niat karena menunaikan perintah ALLAH. Bukan untuk mendapatkan jabatan dan pangkat yang tinggi supaya kita disanjung dan dimuliakan?.



· Kedua, dalam pelaksanaan menuntut ilmu itu, tidak terdapat pergaulan bebas antara lelaki perempuan yang bukan muhrim, menutup aurat, dsb.nya.



· Ketiga, perkara yang pelajari itu sesuai dengan syariat Islam dan halal. Misalnya belajar ilmu Hukum Islam, Kedokteran, Perundangan Islam, Ilmu alam, ilmu hitung dan sebagainya?.



Yang mesti kita ingat, ilmu yang bertentangan dengan syariat contohnya adalah belajar ilmu mencuri, sihir (black magic), tari menari, bermain musik dan sebagainya.



· Keempat, natijah daripada ilmu telah diperoleh, maka hendaklah dijadikan alat untuk berbakti kepada masyarakat kerana ALLAH.



· Kelima, dalam proses kita menuntut ilmu itu pula kita tidak boleh meninggalkan perkara yang asas seperti shalat, puasa dan sebagainya.



c) Pejuang Agama Allah @ Berdakwah.



Walaupun, pada lahirnya sudah tentulah merupakan satu ibadah. Tetapi sekiranya tidak memenuhi syarat yang diterangkan itu amalannya akan menjadi sia-sia dan berdosa.



Cuba kita perhatikan.



· Pertama, niatnya mestilah benar-benar untuk berjuang membela nasib bangsa dan tanah air serta benar-benar menegakkan agama karena ALLAH.



Perlu diingat, membela nasib bangsa dan membebaskan tanah air dari penjajahan ataupun mempertahankan negara dari kekuasaan orang kafir adalah satu perintah ALLAH. Tetapi bila kita mempunyai niat yang tersendiri, yang merupakan kepentingan pribadi, maka perjuangannya menjadi tidak bermakna.



· Kedua, ketika kita melaksanakan perjuangan itu, kita tidak melakukan kezaliman, menindas serta memfitnah orang lain.



· Ketiga, apa yang kita perjuangkan itu jelas sah atau halalnya seperti berjuang melepaskan bangsa Islam yang dizalimi dan ditindas.



· Keempat, natijah(hasil) perjuangan kita hendaklah betul yaitu setelah berjaya membebaskan bangsa dan negara dari penaklukan musuh atau setelah perjuangan kita berjaya, hendaklah menggunakan kejayaan itu untuk lebih meninggikan syiar lslam dan lebih mengukuhkan syariat Islam.



· Kelima, dalam berjuang itu, perkara-perkara yang wajib tidak kita tinggalkan seperti shalat dan puasa.



d) Bekerja mencari rezeki



· Pertama, niat iaitu untuk menanggung dan membiayai hidup keluarga yang merupakan tuntutan wajib dari ALLAH.



Terkadang ada di antara kita yang berniat untuk mencari kekayaan dan kemewahan hidup agar dipandang mulia dan dihormati masyarakat karena baginya kekayaan itu adalah kemegahan padanya.



· Kedua, pelaksanaan dalam mencari rezeki perlu sekali dipertimbangkan karena banyak di kalangan kita yang salah hingga usaha-usaha yang bertentangan dengan syariat dianggap sebagai sumber rezeki. Mencuri, menjual kehormatan dan perbuatan sejenisnya kadang-kadang dianggap sebagai sumber rezeki yang benar, padahal sebenarnya bertentangan dengan syariat. Kadang-kadang dalam pelaksanaan mencari rezeki kita bergaul antara lelaki perempuan yang bukan muhrim. Demikian itu salah.



· Ketiga, sah atau halalnya usaha-usaha kita dalam mencari rezeki dapat ditinjau dari jenis kerja yang kita lakukan misalnya bercocok tanam, menangkap ikan, berternak, bekerja di pabrik-pabrik yang hasilnya tidak bertentangan dengan syariat seperti pabrik roti, susu dan sebagainya dan bukannya pabrik-pabrik yang menghasilkan arak. Sumber kewangan tempat bekerja itu juga tidak bergantung sepenuhnya dengan hasil riba dan sebagainya.



· Keempat, natijah (hasil) mencari rezeki itu pun hendaklah dengan tujuan memberi makan, pakaian dan perlindungan kepada keluarga dan diri sendiri, bukannya untuk berjudi, bersenang-senang dengan berbagai bentuk hiburan atau meminum arak dan lain-lain yang sejenis.



· Kelima, sewaktu mencari rezeki, jangan kita melalaikan perkara yang asas seperti shalat dan puasa atau lalai dalam mencari ilmu fardhu ain.



e) Bermesyuarat



Coba kita perhatikan satu lagi contoh yang mudah, iaitu suatu pekerjaan yang mubah tetapi caranya salah hingga tidak lagi menjadi satu ibadah, yaitu bermusyawarah atau syura.



Sebenarnya musyawarah memang menjadi tuntutan dalam Islam sebagaimana yang diterangkan oleh ALLAH, ertinya: “Dalam urusan mereka (yaitu umat Islam) maka bermusyawarahlah sesama mereka." (As Syura: 38)



Agar amalan bermusyawarah atau syura itu menjadi ibadah, mestilah memenuhi syarat ibadah.



· Pertama, niat mengadakan musyawarah itu mesti betul yaitu untuk menjalankan perintah ALLAH.



· Kedua, melaksanakan musyawarah itu dengan betul misalnya tidak ada kaum perempuan yang membuka aurat di dalam perundingan.



· Ketiga, agenda perbincangan nyata halal atau sahnya di sisi syariat seperti membicarakan masalah nahyun anil mungkar atau tentang keselamatan umat dan negara, dan bukannya membicarakan bagaimana hendak membangun pabrik arak, tempat-tempat perjudian atau masalah bagaimana pelacuran boleh dihalalkan atau membahas untuk mengadakan majelis tari menari dan majelis hiburan dan seterusnya.



· Keempat, natijah musyawarah itu mesti betul yaitu setelah keputusan diperoleh, akan dilaksanakan dengan baik.



· Kelima, ketika menjalankan musyawarah jangan ada yang lalai menunaikan shalat atau tidak berpuasa.



Demikianlah lima syarat ibadah bagi setiap amal dan perbuatan. Kalau setiap perbuatan kita, diselaraskan dengan syarat-syarat itu maka amal-amal kita dari wajib yang paling besar hingga mubah yang paling kecil, akan menjadi ibadah kepada ALLAH dan kita akan diberi ganjaran pahala dariNya.

Read more: http://www.ahmad-sanusi-husain.com/search/label/Ibadah#ixzz2rvg5wDBw